Minggu, 10 Maret 2013

Islam Agama Kecerdasan, Rasional, Pikir, Selalu Memotivasi Untuk Berpikir




Islam secara etimologi (bahasa) berarti tunduk, patuh, atau berserah diri. Sedangkan menurut syari’at (terminology) Islam berarti mencakup seluruh agama, baik pokok, cabang, juga seluruh akidah, ibadah, keyakinan, perkataan, dan perbuatan. Sehingga Islam artinya meyakini dalam hati, mengakui dengan lisan, mengamalkan dengan perbuatan, dan berserah diri kepada Alloh Subhanahu wata’ala.
Semua makhluk di alam semesta ini diciptakan oleh Alloh tiada lain hanyalah untauk beribadah kepada-Nya. Untuk bisa menjalankan kewajibannya beribadah kepada Alloh manusia tidak begitu saja dibiarkan tanpa bekal. Alloh memberikan akal kepada manusia agar manusia dapat memahami petunjuk-petunjuk dari-Nya. Melalui akal manusia dapat mendapatkan ilmu pengetahuan yang dapat mereka pergunakan untuk memecahkan masalah mereka.


Dengan akal manusia bisa hidup lebih baik dan bermanfaat. Karena begitu pentingnya akal bagi manusia, Allah mengulang kata al aqlu dalam Al Quran sedikitnya lima puluh kali. Artinya semakin penting kata itu diulang, semakin penting juga arti kata tersebut.

Melalui Al  Quran, islam mngajak umatnya unutk mendayagunakan akal pikirannya, memperoleh ptunjuk dengan beraktifitas dan bekerja keras sehingga kehidupannya menjadi lebih bermakna. Sebaliknya, jika akal yang telah diberikan oleh Allah itu tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya, hidup manusia akan berjalan seolah tanpa kekuatan dan pegangan.
Berkali-kali dalam Al Quran disebutkan tentang akal. Misalnya “Afalaa ta’qiluun” ( apakah kamu tidak berpikir?), “fa’tabiru ya ulil albab” (hendaklah berpikir wahai orang-orang yang berakal!), dan masih banyak lagi.
Manusia dibekali oleh Allah SWT intelektual yang cerdas. Diantaranya daya ingat yang tajam, sistematika dalam berpikir dan merumuskan persoalan, menyikapi persoalan secara simple, dan sebagainya. Seperti kemampuan umat Islam menghafal Al Quran dan Hadist serta rumusan dalam ilmu mantiq. Semua itu tentu sebuah keistimewaan yang dimiliki oleh manusia. Dan semua itu adalah pemberian dari Allah SWT.
Pentingnya mendayagunakan akal sangat dianjurkan oleh Islam. Tidak terhitung banyaknya ayat-ayat Al Quran dan Hadist Rasulullah SAW yang mendorong manusia untuk selalu berfikir dan merenung. Dalam sebuah hadist pernah disebutkan “Berfikir sekejap saja lebih baik dari pada ibadah selama 70 tahun”. Akal dapat manusia pergunakan untuk menguak rahasia ciptaan Allah. Dengan demikian dampak positifnya adalah bagi keimanan manusia. Dengan akal yang dimiliki manusia hendaknya manusia bisa berfikir dan keimanannya kepada Allah akan semakin meningkat. Sehingga para intelektual Islam pun mengatakan bahwa akal tidak bisa dipisahkan dari Islam. Dan pada akhirnya mereka dapat menyimpulkan islam adalah afama yang menggunakan akal pikiran dan kecerdasan.
Apabila kita telaah dengan lebih cermatdan mendalam antara agama dan akal maka akan sangat bergubungan bahkan saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Agama dan Al Quran tidak akan bisa dipahami tanpa menggunakan akal pikiran yang rasional. Akal tidak akan mencapai tingkatan tertinggi tanpa agama.  Bahkan seorang ilmuwan yahudi yang sudah sangat terkenal dengan teori relativitasnya Albert Einstein pun pernah mengatakan “Ilmu pengetahuan (akal) tanpa agama adalah pincang”. Artinya ketika akal dan agam berseberangan maka yang perlu diprioritaskan adalah agama. Agama akan selalu menuntun kita, menghantarkan kita pada kebenaran sejati dari Allah.
Karena pentingnya aktivitas berfikir, para sahabat mengaitkannya dengan keimanan. Mereka berkata : “Cahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir”. Hal ini mendorong manusia untuk memahami dan mempraktikkan ilmu-ilmu yang mereka pelajari. Baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan demikian tentulah sudah bahwa agama islam adalah agama kecerdasan, akal, rasional, yang selalu mendorong dan memotivasi setiap umatnya untuk terus berpikir. Tentunya dengan tidak terlepas dari Al Qur’an dan Sunnah.


Sumber : 

0 komentar:

Poskan Komentar